KLIK SATU IKLAN DIBAWAH INI!
1 KLIK BERARTI ANDA MEMBANTU PERKEMBANGAN BLOG INI..
TERIMA KASIH..
Akhirnya aku pulang juga. Badanku
sangat pegal. Itu karena seharian aku syuting di Bandung untuk sebuah liputan. Mataku
sudah mulai mengantuk. Tapi sayangnya aku tidak bisa tidur. Karena aku harus
menemani Dika, kameramenku yang juga menyetir untuk sampai ke kantorku di
Jakarta. Dan kami pun masuk ke jalan penghubung Bandung – Jakarta, yang dikenal
dengan Tol Cipularang.
Di mobil kami duduk bertiga. Aku
duduk di depan, sebelahku Dika yang menyetir, dan satu lagi Cici yang duduk di
jok belakang. Aku melihat jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Suasana
jalan Tol Cipularang ini sedikit sepi. Karena mungkin hari biasa dan sudah
larut malam juga. Aku lihat dari spion tengah Cici sudah tertidur. Dika pun
menegurku untuk tidak tidur.
“Hmm.. Dasar Penakut!” kataku. Tapi
memang masih hangat – hangat beberapa kejadian yang terjadi di Cipularang kilometer Sembilan puluh tujuh itu. Mungkin Dika takut melihat hal – hal aneh.
Agar tidak mengantuk, aku
menyalakan Cd audio di mobil. Sambil mengobrol santai, kamipun tertawa – tawa. Iseng
aku melihat ke jalan. Mmh.. Sudah masuk kilometer
enam puluh.
Ketika aku sadar. “Loh,,Dik, Kok
Cd Audionya mati sich?” Dika dan aku saling berpandangan. Aku nyalakan lagi Cd
Audionya, dan tak lama mati lagi. Sampai beberapa kali seperti itu. “Cd
Audionya rusak ya Dik? Kok mati terus sich?” tanyaku. Dika pun hanya
menggelengkan kepala.
Merasa bosan, aku mencoba mencari
– cari hiburan. Aku melihat sebuah mobil di depan dan bertanya kepada Dika. “Dik,
coba deh, kira – kira ada berapa orang yang ada di dalam mobil itu?” Lalu Dika memberi
lampu jauh. Dan terlihat dari bayangan kepalanya ada dua orang.
“Dua Orang!” Aku menjawab
semangat. Dika Nampak kalah. Untuk memastikan ada berapa orang, kami menyusul
mobil itu.
Dannnnn….. hah! Di dalam mobil
itu, penumpangnya hanya sendiri. Aku dan Dika terdiam. Aku dapat merasakan
mobil ini menjadi sangat cepat.
“Eh, Eh, Eh, Dik santai Dik!” Aku
menenangkan Dika. Aku memastikan lagi dengan melihat ke spion kiri mobil. “Hah!” Aku tersentak kaget, ketika aku melihat hal
aneh. Seperti sebuah kain putih yang menempel di belakang kiri mobil dan berterbangan
tertiup angin.
Aku terdiam. Tapi karena
penasaran, aku pastikan melihatnya lebih jelas lagi. Aku coba melihat ke spion
tengah. Aku bisa melihat Cici tertidur pulas. Tapi, seperti ada… Aku geser sedikit
spion tengah mobil. ASTAGA!! Di sebelah Cici duduk seorang wanita dengan baju
putih dan rambut hitam sebahu, Duduk menunduk. Reflex, aku langsung mengarahkan
kaca spion itu ke atas. Dika menegurku keheranan. Sedikit emosi dia bilang,
bagaimana dia bisa melihat ke arah belakang. Aku tidak menjawabnya. Dan menyuruh
Dika untuk terus konsen menyetir.
Aku berusaha tenang. Walaupun mulai
ketakutan. Perasaanku campur aduk. Aku ingin melihat lagi ke belakang, apa
sosok itu masih ada atau tidak. Tapi aku takut. Aku coba untuk bersikap normal.
Dan kembali mengobrol.
TEETTT….. TEETTT…..
Tiba – tiba, sebuah mobil member lampu
tembak sambil membunyikan klakson. Dika memberi jalan mobil itu untuk menyusul.
Sebuah mobil kijang berwarna merah marun dengan plat B menyusul mobil kami.
Aku sempat bercanda. “Dik, pasti tuh
orang kebelet ya jadi buru – buru ngebut. Haha..” Aku dan Dika tertawa. Hingga…..
TEETTT….. TEETTT…..
Sebuah mobil di belakang memberi lampu
tembak lagi. Kami memberi jalan lagi untuk mobil itu lewat. Entah perasaan ku
saja atau memang mobil yang menyusul kami ini sebuah mobil kijang berwarna
merah marun dengan plat B.
Aku dan Dika mendadak
memperhatikan mobil itu dengan seksama. Aku bahkan menghafalkan plat nomornya
dan Dika menghafalkan mobilnya. Mobil itu pun menjauh. Dika melambatkan
kecepatan mobil kami.
Suasana semakin sepi. Lampu penerangan
di jalan ini tidak bagus. Dan aku tidak tahu pasti ini berada di kilometer
berapa. Dan sebuah mobil memberi lampu tembak lagi.
TEETTT….. TEETTT…..
Aku dan Dika mulai merasakan
perasaan tidak enak. Mobil itu mulai menyusul. Aku perhatikan dengan seksama. Kaca
mobil itu sangat gelap. Dan saat menyusul, secara reflex aku ambil kamera
digitalku dan langsung ku foto mobil itu.
Hah! Benar saja. Itu mobil kijang
merah marun lagi. Dan dengan plat nomor yang sama. Tidak akan mungkin ada mobil
yang sama lewat sampai tiga kali di jalan tol. Bulu kudukku berdiri. Aku berusaha
membuat Dika tetap konsen. Mobil itu melaju cepat. Dika kembali menekan gas
mobil dan mencoba menyusulnya.
Di depan kami melihat sebuah truk
kontainer berada di jalur kiri. Dan sebuah bis berada di jalur kanan. Mobil kijang
menyalip di antara bis dan truk itu. Mobil kami pun mengikutinya.
Dan….. Mobil itu hilang! Hilang…..!!!
Ini benar – benar tidak mungkin. Aku dan Dika menengok ke belakang. Dan ASTAGA!
Truk dan Bis itu pun tidak ada! Dika semakin kencang mengemudikan mobil ini. Kami
berdua hanya terdiam. Sampai akhirnya kami pun tiba di pintu tol dalam kota.
Esok paginya, kami membahas
kejadian yang kami alami semalam. Memang banyak misteri di jalan tol
Cipularang. Dan kejadian yang aku alami beserta temanku ini, juga mungkin
pernah dialami oleh pengguna jalan lain di jalan tol Cipularang.
Dan pagi itu, saat aku melihat
tv. Ternyata diberitakan, telah terjadi kecelakaan maut yang menimpa sebuah
mobil travel di kilometer Sembilan puluh tiga. Dan aku jadi
teringat kameraku. Aku membukanya. Melihat hasil foto semalam.
Hah! Bulu kudukku tiba – tiba berdiri.
Aku sangat merinding. Ketika aku lihat hasil gambar itu. Terlihat sebuah papan
petunjuk jalan yang tak sengaja terfoto. Yang terlihat menunjukkan kilometer Sembilan puluh tiga.
KLIK SATU IKLAN DIBAWAH INI!
1 KLIK BERARTI ANDA MEMBANTU PERKEMBANGAN BLOG INI..
TERIMA KASIH..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima Kasih Untuk Kunjungannya.
Silahkan Memberi Komentar. Saran dan Kritik Anda Sangat Saya Hargai.
Insyallah Blog Anda Akan Saya Kunjungi Balik...